“Ulama Pembaharu di Minangkabau”
Oleh: Zulfahmi
(Wasekum Pemuda Islam Sumatera Barat)
Inyiak Jaho, yang bernama lengkap Syekh Muhammad Djamil Jaho lahir pada
tahun 1875 di Jaho. Ayahnya bergelar Datuk Garang yang berasal dari
Negeri Tambangan, Padang Panjang. Sang ayah pernah menjabat sebagai
Qadhi daerah. Ibunya adalah seorang perempuan yang disegani di
tengah-tengah masyarakat. Muhammad jamil dibesarkan...
di tengah keluarga yang kuat menjalankan tradisi dan agama. masa
kecilnya dihiasi dengan nuansa religi yang sangat kental. Beliau belajar
al-Qur’an dan kitab perukunan (kitab-kitab berbahasa Melayu yang
ditulis dengan huruf Arab) dari ayahnya sendiri. Berkat kecerdasan dan
kesungguhannya, pada usia 13 tahun, Muahmmad Jamil telah hafal Al-Qur’an
dan isi kitab perukunan.
Melihat kecerdasan dan kesungguhan
Muhammad Jamil, sang ayah lalu berinisiatif untuk mengjarinya
kitab-kitab kuning.
Dalam beberapa waktu yang cukup singkat, Muhammad
Jamil mampu mencerna maksud yang terkandung dalam kitab gundul tersebut,
dan cakap menguasai bahasa Arab, baik secara lisan atau tulisan. Latar
belakang keluarga yang alim inilah, yang membuat Muahmmad Jamil
senantiasa haus akan ilmu agama, sehingga ia pun melanjutkan pengaisan
ilmunya kepada ulama-ulama besar Minang di zaman itu. Muhammad jamil
semakin tumbuh sebagai sosok yang senantiasa dahaga akan ilmu agama.
maka ia pun pergi menuju halaqah atau majlis ilmu pesantren Syeikh
al-Jufri di Gunung Rajo, Batipuh Padang Pajang.
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Mei 2013
Rabu, 10 April 2013
Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871 – 1970 M): Sang Pendiri PERTI
Oleh: Muhammad Kosim, MA

Namanya adalah Muhammad Sulaiman bin Muhammad Rasul. Murid-muridnya menyebut: Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, atau “Inyiak Canduang”. Ia lahir pada petang Ahad malam Senin tanggal 10 Desember 1871 M bertepatan bulan Muharram 1297 H di Surau Pakan Kamis, Nagari Canduang Koto Laweh, Kabupaten Agam, propinsi Sumatera Barat.
Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, seorang ulama yang disegani di kampungnya dan mengajar di Surau Tangah Canduang. Ibunya bernama Siti Buliah, suku Caniago, seorang perempuan yang taat beragama. Kakeknya (ayah dari ayahnya) juga seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya, yaitu Tuanku Nan Pahit. Jadi, Sulaiman ar-Rasuli lahir dari keluarga yang taat beragama dan pendidik di tengah-tengah masyarakatnya.
Di antara gurnya adalah: Syekh Muhammad Arsyad bin Syekh Abdurrahman al-Khalidi (1899–1924 M) di Batu Hampar Kabupaten 50 Kota, Syekh Abdussamad Tuanku Samiak Ilmiyah, di Biaro IV Angkat Agam, Tuanku Kadi Salo (guru tuo beliau yang kelak menjadi pengunjung—jamaah—majlis taklim yang dibinanya, namun ia tidak memperlakukannya sebagai murid melainkan tetap dihormatinya sebagi guru), Syekh Mohammad Ali Tuanku Kolok di Tanjung Sungayang Kabupaten Tanah Datar, dan Syekh Abdullah Halaban.

Namanya adalah Muhammad Sulaiman bin Muhammad Rasul. Murid-muridnya menyebut: Maulana Syekh Sulaiman ar-Rasuli, atau “Inyiak Canduang”. Ia lahir pada petang Ahad malam Senin tanggal 10 Desember 1871 M bertepatan bulan Muharram 1297 H di Surau Pakan Kamis, Nagari Canduang Koto Laweh, Kabupaten Agam, propinsi Sumatera Barat.
Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, seorang ulama yang disegani di kampungnya dan mengajar di Surau Tangah Canduang. Ibunya bernama Siti Buliah, suku Caniago, seorang perempuan yang taat beragama. Kakeknya (ayah dari ayahnya) juga seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya, yaitu Tuanku Nan Pahit. Jadi, Sulaiman ar-Rasuli lahir dari keluarga yang taat beragama dan pendidik di tengah-tengah masyarakatnya.
Di antara gurnya adalah: Syekh Muhammad Arsyad bin Syekh Abdurrahman al-Khalidi (1899–1924 M) di Batu Hampar Kabupaten 50 Kota, Syekh Abdussamad Tuanku Samiak Ilmiyah, di Biaro IV Angkat Agam, Tuanku Kadi Salo (guru tuo beliau yang kelak menjadi pengunjung—jamaah—majlis taklim yang dibinanya, namun ia tidak memperlakukannya sebagai murid melainkan tetap dihormatinya sebagi guru), Syekh Mohammad Ali Tuanku Kolok di Tanjung Sungayang Kabupaten Tanah Datar, dan Syekh Abdullah Halaban.
Langganan:
Postingan (Atom)
